Kitab Shahih Ibnu Hibban (Literatur Hadits dan Ilmu Hadits)

Avatar photo
Kitab Shahih Ibnu Hibban (Literatur Hadits dan Ilmu Hadits)
(Kitab Shahih Ibnu Hibban (Literatur Hadits dan Ilmu Hadits) foto: PeciHitam.org)

MEDIA ID – Press release, Mengenal lebih dalam sosok Al-Masyhur “Shahih Ibnu Hibban”

Biografi Ibnu Hibban

Nama lengkap Ibnu Hibban adalah Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban Abu Hatim al – Tamimi al – Busti al – Sijistani. Lahir sekitar tahun 280-an H, dan meninggal pada tahun 354 H. Ia lahir di Afghanistan namun disebutkan ia adalah keturunan Arab asli yaitu Arumiyah, karena “al – Tamimi” adalah nisbat kepada Tamim, moyang kabilah arab yang terkenal dan yang bersambung nasabnya sampai kepada Adnan.

Sebagai bahan referensi lihat kitab Shahih Ibnu Hibban Bi Tartib Ibnu Balban karya ‘Alauddin Ali bin Balban al – Fari.

Kitab Shahih Ibnu Hibban

Sebelum masyhur disebut Shahih Ibnu Hibban, judul asli kitab ini adalah at – Taqasim wa al – Anwa. Sesuai dengan yang ditulis penulis ialah, “al – Musnad ash – Shahih ala at – Taqasim wa al – Anwa min Ghairi Wujud Qath’in Fi Sanadiha wa La Tsubut Jarhin Fi Naqiliha”. Judul kitab ini terdapat pada naskah yang ada di Dar al – Kutub al – Mishriyyah.

Saat ini, kitab Shahih Ibnu Hibban tercetak masyhur dengan judul Shahih Ibnu Hibban Bi Tartib Ibnu Balban. Ibnu Hibban menulis kitab Shahih Ibnu Hibban ini termotivasi dari banyak nya khabar yang tersebar, namun sedikit sekali yang mengetahui ke shahihan khabar tersebut.

Dan banyaknya khabar – khabar palsu dan banyak juga yang menghafal khabar yang salah atau terbolak – balik. Oleh karenanya Ibnu Hibban menuliskan khabar – khabar yang menurutnya shahih sesuai dengan syarat – syarat yang ia tulis.

Adapun persyaratan Ibnu Hibban adalah, khabar itu tanpa ada keterputusan dalam sanadnya dan tanpa tetapnya aib pada orang – orang yang meriwayatkannya. Serta, Ia tidak mengambil hujjah padanya kecuali dengan hadis yang terhimpun lima sifat pada setiap syaikh yang terdapat dalam mata rantai riwayatnya, lima sifat tersebut adalah : Adalah, Kejujuran dalam hadis, Pemahaman terhadap hadis, pengetahuan tentang apa yang dapat mengalihkan makna – makna hadis dan Khabarnya terlepas dari tadlis.

Kedudukan Kitab Shahih

Ibnu Hibban Dalam kedudukannya, kitab Shohih Ibnu Hibban lebih tinggi atau diutamakan daripada kitab Mustadrak al – Hakim. Dikarenakan sanad dan matan yang ada didalam kitab Ibnu Hibban lebih bersih dibandingkan Mustadrak.

Ibnu Hajar berpendapat bahwa, hukum hadis yang ada didalam kitab Shohih Ibnu Hibban adalah layak dijadikan hujjah karena didalamnya berkisaran antara hadis – hadis shohih dan hasan saja. (*)